Istrimu vs bidadari Surga, kau pilih mana?

ISTRIMU VS BIDADARI SURGA

๐Ÿ“š ุฑูˆุถุฉ ุงู„ู…ุญุจูŠู† ุตู€ ูฃูคูฅ

ู‚ู„ุช : ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ๏ทบ ู†ุณุงุก ุงู„ุฏู†ูŠุง ุฃูุถู„ ุฃู… ุงู„ุญูˆุฑ ุงู„ุนูŠู† ู‚ุงู„: ยซ ุจู„ ู†ุณุงุก ุงู„ุฏู†ูŠุง ุฃูุถู„ ู…ู† ุงู„ุญูˆุฑ ุงู„ุนูŠู† ูƒูุถู„ ุงู„ุธู‡ุงุฑุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ุจุทุงู†ุฉยป

ู‚ู„ุช ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ๏ทบ ูˆุจู… ุฐู„ูƒ ุŸ ู‚ุงู„: ยซ ุจุตู„ุงุชู‡ู† ูˆุตูŠุงู…ู‡ู† ูˆุนุจุงุฏุชู‡ู† ุงู„ู„ู‡ ุฃู„ุจุณ ุงู„ู„ู‡ ูˆุฌูˆู‡ู‡ู† ุงู„ู†ูˆุฑ ูˆุฃุฌุณุงุฏู‡ู† ุงู„ุญุฑูŠุฑ ุจูŠุถ ุงู„ุฃู„ูˆุงู† ุฎุถุฑ ุงู„ุซูŠุงุจ ุตูุฑ ุงู„ุญู„ูŠ ู…ุฌุงู…ุฑู‡ู† ุงู„ุฏุฑ ูˆุฃู…ุดุงุทู‡ู† ุงู„ุฐู‡ุจ ูŠู‚ู„ู† ู†ุญู† ุงู„ุฎุงู„ุฏุงุช ูู„ุง ู†ู…ูˆุช ู†ุญู† ุงู„ู†ุงุนู…ุงุช ูู„ุง ู†ุจุฃุณ ุฃุจุฏุง ู†ุญู† ุงู„ู…ู‚ูŠู…ุงุช ูู„ุง ู†ุธุนู† ุฃุจุฏุง ุฃู„ุง ูˆู†ุญู† ุงู„ุฑุงุถูŠุงุช ูู„ุง ู†ุณุฎุท ุฃุจุฏุง ุทูˆุจู‰ ู„ู…ู† ูƒู†ุง ู„ู‡ ูˆูƒุงู† ู„ู†ุง ยป

Aku berkata (Ummu Salamah) : “Wahai Rasullah ๏ทบ, manakah yang lebih mulia antar wanita dunia atau bidadari surga?

Rosulullah ๏ทบ menjawab : “Wanita dunia lebih utama daripada bidadari surga, seperti halnya keutamaannya bagian luar dari pakaian dibandingkan bagian dalam dari pakaian tersebut”.

Aku berkata (Ummu Salamah) : “Dengan sebab apa wahai Rosullah ๏ทบ, wanita dunia lebih utama dibandingkan bidadari surga ?

Rosulullah bersabda : “Sebab sholat, puasa, ibadah mereka (wanita dunia). Allah terangkan wajah mereka dengan nur, dan Allah pakaikan pada tubuh mereka sutra, tubuh mereka putih bening, pakaian mereka berwarna hijau mengkilau, perhiasaan mereka berwarna kuning memukau, wadah dupa kepunyaan mereka terbuat dari mutiara, dan sisir mereka terbuat dari emas, mereka akan berkata ‘Kami ini kekal tidak akan mati selamanya, kami ini orang yang di karunia nikmat, maka kami tidak akan pernah sengsara selamanya, kami ini adalah penduduk tetap (surga), maka maka tidak akan pernah pergi selamanya, dan kami ini adalah orang yang lapang dada, maka kami tidak akan pernah marah selamanya, maka sungguh beruntung orang yang di takdirkan bersama kami, dan kami di takdirkan untuknya”.

Refrensi : Roudhotul Muhibbin, hlm : 345

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *