ASAL MULA KHOTMUL BUKHORI

ASAL MULA KHOTMUL BUKHORI

Ini adalah sebuah tradisi baik yang berasal dari Yaman dan sekarang tradisi ini juga populer di Indonesia. Banyak kota di Indonesia mengadakan pembacaan shohih bukhori pada bulan Rajab dan Sya’ban bahkan ada yang membacanya hingga bulan Ramadhan. Diantara kota-kota tersebut adalah Solo, Pasuruan, Gresik, Surabaya, Sukabumi, Jakarta, Jombang, Kediri, Jogjakarta dan masih banyak kota-kota yang lain.

Al Muhaddits Abdurrahman Sulaiman Al Ahdal menjelaskan beberapa alasan kenapa dipilih Rajab sebagai waktu permulaan pembacaan shohih bukhori. Karena bulan itu sudah mendekati Ramadhan, yang mana di dalamnya syariat puasa, zakat, qiyam lail digalakkan, sehingga umat Islam lebih memahami amalan-amalan itu. Apalagi setelah itu diikuti amalan haji yang menyangkut manasik dan safar, sebagaimana dinukil Syeikh Muhammad Abdurrhaman Al Ahdal dalam muqadimah Al Mustasyfa fi Sunan Al Musthafa (hal. 15).

Di samping itu, dengan adanya pembacaan shohih bukhori ini, maka mereka sudah terkondisi dengan aktivitas positif, yakni thalabul ilmi, sehingga setelah memasuki bulan Ramadhan, waktu tetap terisi dengan amalan mulia.

Membaca Shohih Bukhori yang dilakukan untuk menyambut Ramadhan ini mulai muncul di awal masa pemerintah Bani Rasul pada tahun 625 H. Penguasa itu memiliki perhatian besar terhadap keilmuan, khususnya hadits dan memuliakan para ulamanya.

Al Hazraji pernah merekam aktivitas ini pada tahun 881 H, di mana di awal bulan Rajab, para fuqaha berkumpul di daerah Zabid, Yaman. Lalu mereka bersama-sama menuju Ibnu Yaqub As Syairazi agar ia bersedia membacakan Shohih Bukhori. Di kota yang mendapat julukan madinah ilmi itu para ulama yang hadir untuk menyimak Shohih Bukhori mencapai 800 orang. (Al ‘Uqud Al Lu’lu’iyah, 2/249,250).

Selain di Zabid, di kota Al Marawa’ah juga terdapat halaqah Shohih Bukhori yang telah dirintis oleh Al Ahdal Ali bin Umar (607 H), dan hingga kini “tradisi” itu juga masih hidup, khususnya pembacaan shohih bukhori yang dimulai bulan Rajab.

Kota Bait Faqih pun tidak ketinggalan, pembacaan Shohih Bukhori di wilayah itu dirintis oleh keluarga Alu Jam’an, yang dikenal sebagai keluarga yang amat mencintai ilmu, periwayatan hadits, dan fatwa.

Sedangkan di kota Adn, pembacaan kitab yang dinilai paling shahih setelah Al Qur’an (Shohih Bukhori) itu lebih mudah ditemui, karena terdapat di lebih dari satu tempat. Yakni di masjid Syeikh Abdullah Al Amudi (697 H), masjid Husain Sidiq Al Ahdal (903 H), masjid Al Atsqalani yang dinisbatkan kepada Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani yang pernah tinggal di kota ini selama 6 bulan. Di masjid itu Syeikh Al Muhadits Al Bijani (1391 H) juga mengajarkan Shohih Al Bukhari, sehingga saat ini masjid itu dikenal dengan masjid Al Bijani. Di kota Abyat Husain juga masih terdapat pembacaan shohih bukhori ini.

Halaqah Shohih Bukhori seperti jamur di musim hujan, beberapa kota seperti Zaidiyah, Dhuha, Al Hadidah, dan Ta’z juga masih hidup. Halaqah itu juga biasa dijumpai di komunitas Hadrami.

Oleh karena itu, banyak Muslim Yaman yang memiliki sanad yang menyambung hingga Imam Al Bukhari, dan sanad itu masih terus tersambung sampai zaman ini, yang merupakan lanjutan dari rantai periwayatan para ulama dan hufadz ternama di setiap zaman.

Sesuai dengan perkataan para salaf, ”Bulan Rajab untuk menanam, Sya’ban untuk menyiram dan Ramadhan untuk menyemai.” Rupanya, umat Islam Yaman tidak hanya menyemai pahala amalan pada bulan itu, karena banyak pula ilmu yang berhasil mereka “reguk” selama tiga bulan. Sehingga ilmu dan amal selalu beriringan.

[Disadur dari tulisan Syeikh Muhammad Abdurrahman Al Ahdal di Muqadimah Al Mustasyfa fi Sunan Al Musthafa, Muhammad Al Lahji, Dar Al Minhaj, Jeddah, cet. I (1426 H)]”/

✒️ Ustadz Muhammad Husein Al Habsyi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *